When Too Feel (WTF)

9

Perasaan memegang peranan penting dalam kehidupan. Perasaan menimbulkan keadaan saling terhubung antar manusia. Perasaan mengendalikan aliran energi, membentuk situasi-situasi menyenangkan dalam kehidupan manusia. Tapi sayang, perasaan jugalah yang mengalirkan energi yang membentuk situasi-situasi negatif dalam kehidupan. Perasaan adalah seperti pedang bermata dua yang bisa memudahkan kehidupan namun bisa pula menebas kehidupan.

Pria dan perempuan itu berbeda dalam hal perasaan, begitu kata sebuah buku. Perempuan lebih sering memainkan perasaannya ketimbang pria yang lebih senang menggunakan nalarnya. Toh begitu, dalam situasi yang emosional secara intens pria dan perempuan akan nampak serupa. Pria bisa jadi monster emosi yang menghancurkan apapun yang ada di depannya, begitu pula dengan perempuan. Perasaan yang adalah sesuatu yang telah menyatukan manusia bisa seketika berubah menjadi sesuatu yang memporakporandakan hubungan antar manusia.

IbuSeandainya aku tidak pernah membaca buku Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps yang ditulis oleh Allan dan Barbara Pease, mungkin aku masih akan tersesat dalam ketidakpahaman mengenai gerak emosi utamanya dalam diri kaum perempuan. Namun walaupun aku sudah membacanya berulangkali, ada saja situasi yang menuntutku untuk belajar lebih dalam tentang perasaan ini, memahaminya dan belajar mengendalikannya.

Sebagai seorang pria aku secara genetika lebih didominasi oleh nalar ketimbang emosi. Tapi elemen api dalam diriku sering muncul tak terkendali dalam situasi yang tidak beres menurutku. Di saat seperti itulah aku kadang kehilangan nalarku dan terkuasai oleh perasaanku.

Lewat banyak masalah, aku sudah belajar bahwa berada dalam masalah bukanlah saat yang tepat untuk mengumbar emosi. Hal itu mudah dilakukan kalau yang dihadapi adalah benda mati seperti misalnya komputer rusak atau printer atau kendaraan. Tapi ternyata tidak semudah itu bila yang dihadapi adalah manusia juga, yang bisa memberikan feedback berupa emosi yang lebih intens ketika aku menanggapinya dengan emosi. Seperti api yang bertemu api sehingga keduanya menyala makin besar. Ah, mungkin ini memang waktunya aku naik kelas. Kalau menghadapi benda mati sudah lulus, sekarang saatnya belajar lebih banyak menghadapi makhluk hidup berjuluk manusia.

Untungnya aku sudah diberikan banyak guru hebat, salah satunya adalah ibuku. Ibuku adalah salah satu dari segelintir perempuan yang istimewa. Kalau seorang perempuan biasanya mudah sekali dikuasai oleh perasaannya hingga sering menenggelamkan dirinya semakin dalam ke dalam masalah yang muncul, ibuku berbeda. Beliau sanggup mengelola perasaannya dengan sangat pandai. Situasi yang sangat emosional pun teramat sulit untuk bisa membuatnya kehilangan kontrol emosi. Bahkan yang kuingat terakhir kali ibuku marah besar adalah sekitar 9 atau 10 tahun yang lalu. Penyebabnya ? Aku. Tidak mudah memang menangani anak remaja seperti aku waktu itu. Dan itulah terakhir kalinya aku melihat ibuku begitu marah.

Tapi sekarang berbeda. Bahkan ketika aku yang adalah seorang pria tak lagi bisa menguasai emosi, ibuku tetap adalah seorang perempuan yang dengan kematangan emosinya selalu bisa meredamku. Kontrol emosi tingkat tingginya mungkin bisa disejajarkan dengan guru-guru kungfu di perguruan Shaolin 6(-..-‘). Ibuku benar-benar seorang guru bagiku.

Bagaimanapun, pengendalian emosi adalah jurus penting yang harus dipelajari dalam perjalanan hidup sebagai manusia. Perasaan adalah tool yang berfungsi untuk memberikan pengalaman bagi roh. Perasaan yang berada dalam tataran jiwa adalah alat yang tepat untuk memberikan pembelajaran bagi roh manusia. Oleh karena itu, perasaan haruslah dipahami seluk beluknya supaya manusia bisa menggunakannya tepat guna dan tepat sasaran.

Leave a Reply

if ( !is_user_logged_in() ) { echo ""; }